ke deplu
SMS saya ke Pak Boss tadi malam:
"Pak, besok pagi saya ada keperluan dulu ke Deplu. Saya ke kantor siang ya Pak."
Penggalan percakapan telpon saya dengan salah satu klien tadi pagi:
"Maaf Pak, kebetulan saya sedang di Deplu, saya telepon balik Bapak sesudah jam makan siang ya..."
Gaya ya... ;-p Untungnya ga ada dari Bapak2 itu yang tanya ke saya: "ngapain di Deplu?" Tentu saja bukan buat ketemu sama Pak Hasan Wirayuda :D Tapi sekedar menghadiri Undangan; yang buat ukuran orang kayak saya; ga kalah hebatnya :D
Iya, saya dapet undangan untuk mengadiri acara peluncuran dan bedah buku berlatar belakang sejarah: kekuatan ketiga dalam perjuangan kemerdekaan indonesia. Sejak kapan saya tertarik dengan sejarah? Mungkin baru hari ini :D
Prof. DR. R. Z. Leirissa, ahli sejarah dan Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI ini emang top banget! Buku Kekuatan Ketiga yang ditulisnya berisi tentang berbagai fakta sejarah yang mewarnai perjuangan diplomasi Indonesia. Buku ini menelusuri tentang perjuangan BFO (Bijeenkomst Federaale Overleg) atau Pertemuan Musyawarah Federal (PMF); wadah yang pembentukannya diprakarsai oleh Mr. Ide Anak Agung Gde Agung pada tahun 1948; yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia lewat jalur diplomasi, sejak dibentuknya pada Juli 1948 hingga terselenggaranya Konferensi Meja Bundar (KMB), dan jasa2 BFO dalam penyelesaian konflik Indonesia-Belanda.
Buat saya dan mungkin sebagian besar generasi muda seangkatan saya, yang biasa dicekokin ilmu sejarah tanpa pernah menuntut bukti, memahami buku ini emang jadi perlu sedikit perjuangan :D
Harus diakuin, sejarah Indonesia emang rada2 kabur alias sedikit remang2. Gimana ga, orang Indonesia konon emang punya hobi ngilangin arsip2 atau dokumen2 (berarti saya ini Indonesia banget ya... ;-)) Untuk ngumpulin bukti2 pendukung catatan sejarah yang ditulis dalam bukunya, Prof. Leirissa harus jauh2 pergi ke Belanda, karena semua arsip sejarah diplomasi Indonesia malah tersimpan dengan rapi di sana... (kalo nggak gitu juga ga jalan2 ya Prof... :D). Gara2 ga ada arsip, dokumen dan catetan yang jelas ini, banyak sejarah yang diturunkan dari generasi di atas kita ke kita hanya melalui cerita lisan, tanpa bukti. Kalau pas yang cerita jujur sih masih mendingan. Nah, kalau yang cerita orangnya pelupa kayak saya? Kesian sejarahnya kan....
"Waktu itu..., kalau nggak salah bulan Mei. Tahunnya Ibu sudah lupa. Kayaknya Ibu liat di TV ada kerusuhan besar di Jakarta. Gara2nya rakyat marah sama pemerintah. Rakyat atau mahasiswa gitu deh... Akhirnya, presidennya lengser. Namanya siapa ya.... Pokoknya dia udah lama banget deh jadi Presiden..."
Kan, kesian generasi selanjutnya yang bener2 pengen tahu sejarah negaranya ya... ;-p
Gara2 pengalaman pagi ini, tiba2 saja, saya kok jadi kepingin belajar jadi ahli sejarah ya? Professional Historist. Hehe... ga malu sama umur ya :D Udah tua, masih aja hobi gonta-ganti cita2.... Yang pasti, mulai hari ini, saya akan berdoa dengan lebih khusuk dan telaten buat Jenderal kecil saya. Semoga suatu hari nanti, Benaia bisa jadi Diplomat Besar. Seperti cita2 Ibunya... ;-)

















emang Bianca gak boleh jadi diplomat?
*mewakili.bianca* :) (Comment this)
Benaia: Ibuuu... Diplomatnya nanti yaaa... sekarang Besarnya aja duluu.....
hehehee....;-P
Kiss buat Pipi Gembilnya Benaia...Met wiken yaaa... (Comment this)
Semoga Jendral kecil bisa jadi Diplomat besar... sprt keinginan Ibu na... amin (Comment this)
Les....gimana kalo mereka ga mau jd diplomat? (Comment this)
kayaknya masalah dalam sejarah Indonesia ga cuma karena semuanya berupa cerita lisan, tapi juga krn represi penguasa ;). kalo di luar sih, rahasia negara umurnya cuma 30 tahun, jadi setelah 30 tahun, publik berhak meminta rahasia tsb dibuka. tapi ga tau deh kalo di Indonesia :) (Comment this)