tanda cinta
Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya....
(Amsal 13:24)
Tidak seperti biasanya. Minggu pagi itu saya melepas putri semata wayang saya di gerbang jalan menuju sekolah minggu dengan hati yang amat sedih. Saya sempat melihat sisa2 tangisnya. Ada bagian pipinya yang masih basah.
Pagi itu, di rumah, waktu sedang siap2 berangkat ke Gereja, terjadi sedikit 'perselisihan' antara saya dengan Bianca. Bianca menolak arrangement saya mengenai pendamping mereka di sekolah minggu. Bianca minta ditemenin sama Mbak Inem. Sementara Ibu sudah menempatkan Mbak Munah untuk mendampingi Bianca. Tentunya dengan berbagai pertimbangan yang semuanya adalah demi kebaikan semua ;-) Entah kenapa, pagi itu, Bianca bersikap sangat tidak koperatif. Saya terpaksa menegurnya. Betul2 terpaksa. Awalnya dengan pelan, tetapi kemudian menjadi lebih keras.
Ternyata 'menghardik' buah hati saya itu sama sekali bukan pekerjaan yang mudah. Saya ga tau pasti, siapa sebenarnya yang ngerasa sakit lebih banyak. Bianca kah? Atau saya?
Sekitar satu jam kemudian. Setelah kebaktian usai, kami bertemu kembali di pelataran Gereja. Wajah putri saya sudah kembali dihiasi senyum. Dengan semangat dia bercerita tentang kegiatan di kelas sekolah minggunya. Anehnya, di hati saya pedih sisa pagi tadi masih juga tersisa.
Maafkan Ibu ya Nak....























Recent Comments
http://www.alatsurveycenter.com/
wah cuma beda 1 t
aku